Turun 4 persen, Analis ingatkan tekanan Rupiah membebani IHSG


Jakarta (ANTARA) - Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit mengingatkan tekanan terhadap mata uang Rupiah telah membebani pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

 

IHSG sempat melemah hingga 320,76 poin atau 4,77 persen ke posisi 6.402,56 pada perdagangan pukul 11.04 WIB di BEI pada Senin (18/05) hari ini.

“Dapat kita cermati juga dari pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang terkoreksi, ditambah dengan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih tertekan dan saat ini berada di level Rp 17.676 per dolar AS turut membebani pergerakan IHSG,” ujar Didit saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.

Selain itu, lanjutnya, IHSG juga terbebani seiring adanya pengumuman dari penyedia indeks global yaitu MSCI dan FTSE, yang masih membekukan saham-saham Indonesia, serta mengeluarkan beberapa emiten dari konstituen mereka.

 

“Dimana hal ini akan menimbulkan outflow (arus dana keluar) yang cukup besar di akhir Mei (2026) nanti,” ujar Didit.

Seiring konflik geopolitik yang berlarut-larut, Didit mencermati telah menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia yang saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel, yang juga kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi ke depan, serta perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Reydi Octa melihat pelemahan IHSG lebih dipicu oleh kombinasi sentimen global dan tekanan teknikal domestik.

“Pasar masih dibayangi risk-off akibat eskalasi geopolitik Timur Tengah, pelemahan rupiah, serta aksi jual asing yang kembali agresif di saham big caps. Efek lanjutan rebalancing MSCI juga membayangi pasar IHSG hari ini,” ujar Reydi.

 

Selain itu, lanjutnya, pengumuman dari FTSE yang memberikan sinyal keras akan menghapus saham-saham High Shareholding Concentration (HSC), sehingga kekhawatiran terhadap tekanan jual akibat keluarnya dana asing dan passive funds semakin menekan psikologis pasar.

 


Editor : Eko