Studi Boomi Temukan Bahwa Organisasi di Kawasan Asia-Pasifik Berisiko Mengorbankan ROI AI Tanpa Landasan Data yang Kuat
Antusiasme terhadap AI semakin meningkat di seluruh kawasan ini, tetapi fragmentasi data, kualitas data yang rendah, dan kelemahan dalam tata kelola masih terus terjadi
Singapura--(ANTARA/Business Wire)-- Boomi, sebuah perusahaan aktivasi data untuk kecerdasan AI, pada hari ini mengumumkan hasil penelitian terbaru yang dipesan oleh Boomi dan diselenggarakan oleh Omdia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa meskipun adopsi AI di kawasan Asia-Pasifik berkembang pesat tetapi sejumlah besar organisasi masih belum memiliki arsitektur data yang diperlukan untuk mencapai ROI yang terukur.
Survei Omdia terhadap lebih dari 1.100 pemangku keputusan senior di bidang teknologi dan bisnis di Australia, Selandia Baru, Singapura, Malaysia, dan Filipina menunjukkan bahwa 74% di antaranya telah menjalankan inisiatif AI secara aktif. Sembilan dari 10 responden meyakini bahwa otomatisasi berbasis AI akan secara signifikan mengubah proses bisnis mereka dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Meskipun momentum adopsi AI terus meningkat, saat ini hanya 46% yang menerapkan pendekatan integrasi berbasis platform, yang menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin besar antara ambisi AI dan pelaksanaannya. Di sisi lain, hampir seperempat responden menyatakan bahwa mereka tidak mampu mengukur keberhasilan inisiatif AI secara efektif, yang menjadi kendala kritis saat berusaha menilai ROI.
“Organisasi-organisasi di kawasan Asia-Pasifik bergerak cepat dalam hal AI, tetapi penelitian menunjukkan bahwa banyak di antara mereka tampaknya masih memandang AI sebagai bagian dari pengeluaran teknologi secara umum, bukan sebagai inisiatif transformasi bisnis strategis,” kata David Irecki selaku Chief Technology Officer Boomi untuk kawasan Asia-Pasifik & Jepang. “Kesenjangan antara penerapan AI dan realisasi ROI berakar pada satu masalah mendasar, yaitu landasan data yang lemah. Tanpa kerangka kerja integrasi, tata kelola, dan kualitas data yang terpadu, setiap inisiatif AI baru justru menambah kerumitan, bukan nilai tambah.”
Penelitian menunjukkan bahwa 89% responden secara aktif berupaya mengurangi penyebaran alat dan teknologi yang berlebihan, dan 92% di antaranya telah melakukan konsolidasi di bidang data, integrasi proses, pengelolaan antarmuka pemrograman aplikasi (API), dan otomatisasi.
Tata Kelola Data sebagai Prioritas Utama
Sementara itu, 94% organisasi di kawasan Asia-Pasifik menganggap integrasi, akses, dan tata kelola data sebagai prioritas utama, sedangkan 93% di antaranya meyakini bahwa inisiatif AI akan meningkatkan fokus pada kualitas data dan kebijakan tata kelola data. Namun, hanya setengah dari responden yang telah menerapkan kebijakan tata kelola data khusus AI secara formal, dan 81% di antaranya menyatakan bahwa integrasi bayangan yang tidak terkelola mengganggu kualitas data dan kepercayaan terhadap data.
“Sembilan dari 10 organisasi yang kami survei menyebut tata kelola sebagai prioritas, tetapi hanya setengahnya yang telah menerapkan kebijakan formal,” kata Michael Barnes, Chief Analyst, Enterprise IT Asia di Omdia. “Saat tim mengembangkan model AI berdasarkan data yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan atau atur di seluruh sistem, mereka tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai data mana yang menjadi masukan bagi model tersebut. Kesenjangan itu menjadi risiko bisnis yang nyata.”
Kedaulatan data kini menjadi pertimbangan utama, dengan 76% perusahaan menyatakan kekhawatiran terkait persyaratan tempat penyimpanan data. Namun, hanya 24% yang menyatakan bahwa kekhawatiran tersebut berdampak signifikan terhadap strategi integrasi data atau AI mereka, yang menunjukkan bahwa banyak organisasi masih berada pada tahap awal perencanaan operasional.
Penerapan Secara Luas untuk Keunggulan Kompetitif
“Keberhasilan penerapan AI secara luas bergantung pada data yang dapat diandalkan, terintegrasi, dan dikelola dengan baik. Para CIO dan pimpinan TI senior semakin berfokus pada penyederhanaan lingkungan yang terfragmentasi, peningkatan kualitas data, serta pembangunan landasan operasional yang diperlukan untuk mendukung penerapan AI dalam skala perusahaan,” tambah Irecki
“Kecepatan adopsi AI yang pesat di kawasan Asia-Pasifik — yang dipimpin oleh Malaysia dengan angka 86% dan Singapura dengan 78% — menunjukkan bahwa organisasi-organisasi kini telah melampaui tahap percobaan dan memasuki tahap implementasi. Namun, kini saatnya bagi organisasi-organisasi tersebut untuk membangun landasan data yang tepat, kemampuan integrasi, dan struktur tata kelola.”
“Tanpa perubahan ini, organisasi berisiko menciptakan aktivitas AI yang terisolasi tanpa menghasilkan hasil bisnis yang terukur. Tata kelola, kualitas data, dan pengukuran kinerja yang jelas merupakan hal-hal yang mengubah penerapan AI menjadi nilai bisnis yang berkelanjutan, sehingga memungkinkan organisasi untuk mengubah adopsi AI menjadi peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, dan keunggulan kompetitif,” ujar Irecki.
Unduh laporan lengkap, “AI Ambition Meets Data Reality: APAC Technology Priorities and Challenges 2026”, di https://boomi.com/content/report/apac-tech-priorities-ai-2026/
Sumber Informasi Tambahan
- Dengarkan apa kata pelanggan Boomi di seluruh dunia
- Ikuti Boomi di X, LinkedIn, Facebook, and YouTube
Tentang Boomi
Boomi adalah perusahaan aktivasi data untuk AI yang mendukung perusahaan berbasis agen dengan menghidupkan data di seluruh lini bisnis. Boomi Enterprise Platform merupakan fondasi data aktif yang menyediakan infrastruktur agen penting untuk mendorong transformasi agen. Dengan memadukan desain dan tata kelola agen, pengelolaan API dan MCP, integrasi dan otomatisasi, serta pengelolaan data ke dalam satu platform, Boomi memungkinkan organisasi untuk memanfaatkan kekuatan AI dengan konektivitas yang aman dan terukur.. Dipercaya oleh lebih dari 30.000 pelanggan dan didukung oleh jaringan lebih dari 800 mitra, Boomi membantu organisasi dari berbagai ukuran untuk mencapai kelincahan, efisiensi, dan inovasi dalam skala besar. Temukan lebih lanjut di boomi.com.
© 2026 Boomi, LP. Boomi, logo ‘B’, dan Boomiverse adalah merek dagang terdaftar milik Boomi, LP atau anak perusahaan atau afiliasinya di AS dan negara-negara lainnya. Semua hak cipta dilindungi undang-undang. Nama atau merek lainnya mungkin adalah merek dagang milik masing-masing pemiliknya.
Pengumuman ini dianggap sah dan berwenang hanya dalam versi bahasa aslinya. Terjemahan-terjemahan disediakan hanya sebagai alat bantu, dan harus dengan penunjukan ke bahasa asli teksnya, yang adalah satu-satunya versi yang dimaksudkan untuk mempunyai kekuatan hukum.
Tersedia Galeri Multimedia/Foto: https://www.businesswire.com/news/home/20260615391067/en
Contacts
Kontak Media:
Jasmine Ee
Komunikasi Global
jasmine.ee@boomi.com
Sumber: Boomi
Penulis : Adityawarman


