Robin Zeng: Mewujudkan Era Energi Berkelanjutan dengan Teknologi Nol Karbon
Ningde, Tiongkok, (ANTARA/PRNewswire)- Dr. Robin Zeng, Chairman & CEO, CATL, menyampaikan paparan tentang masa depan energi di ajang World Laureate Summit dan World Governments Summit di Dubai, Uni Emirat Arab, pada 3 Februari. Berikut naskah lengkapnya:
Dalam sejarah manusia, energi selalu menggerakkan perkembangan peradaban. Setiap lompatan besar dalam perkembangan manusia selalu diiringi dengan revolusi energi. Saat ini, kita kembali berada di tengah-tengah revolusi energi—sama ketika manusia beralih dari pola hidup sebagai pemburu-peramu ke masyarakat agraris—dari era berburu dan mengekstraksi bahan bakar fosil, menuju era memanen energi dari tenaga angin dan matahari, serta menyimpannya dalam baterai.
Revolusi ini didukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menghadirkan solusi praktis sekaligus menghemat biaya. Menurut IEA dan BNEF, dalam satu dekade terakhir, biaya baterai LFP dan tenaga surya menurun sekitar 80%. Solusi energi berkelanjutan telah berkembang dari sekadar layak secara teknis menjadi pilihan yang menarik secara ekonomi.
CATL mendorong perkembangan energi terbarukan agar benar-benar memiliki daya saing ekonomi untuk berbagai aplikasi. Di sektor pertambangan, sistem tenaga surya-plus-penyimpanan energi buatan CATL telah diterapkan di Chile dan Republik Demokratik Kongo, memasok listrik ke lokasi terpencil dengan biaya sekitar seperempat dari listrik yang dihasilkan generator diesel.
Transformasi serupa juga terjadi di sektor perindustrian. Di Pakistan, perkembangan pesat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terdistribusi yang dipadukan dengan solusi penyimpanan energi CATL menyediakan pasokan listrik yang andal bagi pabrik semen setempat, sekaligus memangkas biaya listrik hingga setengahnya.
Di California, kita melihat gambaran sistem kelistrikan masa depan pada skala jaringan. Seiring bertambahnya kapasitas penyimpanan energi, ketimpangan antara permintaan listrik dan suplai tenaga surya ("duck curve"), akibat penetrasi energi terbarukan yang tinggi, berhasil ditekan secara signifikan. Pada 2025, jaringan listrik mencatat lebih dari 1.800 jam ketika energi bersih memenuhi atau melampaui total kebutuhan listrik—menunjukkan potensi besar ketika energi terbarukan dan penyimpanan berkembang secara bersamaan.
Perkembangan ini menunjukkan kenyataan yang lebih luas: di banyak wilayah, energi bersih diadopsi bukan hanya demi tujuan iklim, namun juga kemajuan teknologi yang membuatnya menjadi pilihan yang paling layak secara komersial.
Kita tengah berhadapan dengan pergeseran besar menuju era energi nol emisi (net-zero). Menurut saya, sistem energi masa depan dapat diringkas dalam tiga kata: terdistribusi, cerdas, dan sirkular.
Pertama, sistem tenaga listrik terdistribusi—mencakup pembangkit energi terbarukan dan penyimpanan baterai canggih—akan berkembang pesat di seluruh dunia, terutama di wilayah dengan infrastruktur jaringan listrik yang masih lemah. Sistem tersebut akan menggantikan sumber energi berbasiskan bahan bakar fosil yang bersifat terpusat, dan bergantung pada pembangkit listrik skala besar serta jaringan yang kuat.
Namun, porsi energi terbarukan yang tinggi juga menghadirkan tantangan bagi stabilitas sistem tenaga listrik. Demi mengatasinya, CATL mengembangkan teknologi penyimpanan energi grid-forming bertegangan tinggi yang inovatif, serta mampu menjaga stabilitas sistem energi nol karbon. Teknologi ini menyediakan pengaturan frekuensi jaringan, kompensasi daya reaktif, damping control, serta dukungan inersia sistem. Di sisi lain, teknologi ini memiliki kemampuan black-start yang sangat baik—fitur krusial saat terjadi pemadaman listrik skala besar, seperti yang dialami Spanyol pada tahun lalu.
Rekayasa teknologi ini juga telah teruji. Di Tiongkok, kami menerapkannya untuk membangun kawasan industri off-grid yang sepenuhnya memanfaatkan oleh pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), PLTS, dan penyimpanan energi guna memasok pabrik baterai berkapasitas 40 GWh. Kombinasi ini membuktikan, teknologi energi canggih dapat mewujudkan sistem tenaga listrik dengan nol emisi.
Selain terdistribusi, sistem energi masa depan akan semakin cerdas. Sistem ini akan mampu mengelola data dalam jumlah besar dan beradaptasi terhadap fluktuasi listrik yang dihasilkan, serta konsumsi energi terbarukan. Penjadwalan dan optimalisasi berbasiskan AI mutakhir akan diperlukan untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan energi. Sebagai contoh, kami menggunakan AI guna meningkatkan pengelolaan sistem energi di Pusat Data AI SenseTime di Shanghai, serta mengelola fluktuasi kebutuhan energi dari beban komputasi.
Ketiga, ekonomi sirkular sangat penting untuk mencapai energi nol karbon. Berbeda dari bahan bakar fosil yang habis terbakar saat digunakan, material dalam sistem energi nol karbon dapat didaur ulang. CATL telah memimpin upaya ini dan mencapai tingkat daur ulang tertinggi di industri—99,6% untuk nikel dan kobalt, serta 96,5% untuk litium. Untuk membangun pasokan bahan baku kritis yang stabil dan berkelanjutan, kami juga bekerja sama erat dengan LSM dan mitra industri untuk mendorong ekonomi sirkular di sektor ini.
Digerakkan perkembangan teknologi nol karbon, era energi berkelanjutan bukan lagi sebuah visi yang jauh—era ini semakin dekat. Menurut perkiraan saya, tahun 2030 akan menjadi awal dari era energi berkelanjutan.
Bagaimana kita mencapainya? Jawaban saya: sains menunjukkan apa yang mungkin tercapai, namun rekayasa dan manufaktur menentukan seberapa cepat kita mencapainya.
Ilmu pengetahuan dasar tetap menjadi sumber utama transformasi. Terobosan dalam teknik material, kecerdasan buatan, dan sistem energi baru akan terus membangun masa depan. Secara jujur, dengan teknologi saat ini, kita mungkin baru menyelesaikan kurang dari 30% sistem energi yang benar-benar berkelanjutan. Banyak teknologi disruptif belum muncul, dan riset dasar yang signifikan masih diperlukan.
Agar teknologi benar-benar mengubah dunia, inovasi harus melampaui laboratorium dan diterapkan dalam skala besar. Saat ini, kami telah mencapai terobosan ilmiah dan menghadirkan teknologi untuk bidang terdepan seperti baterai terkondensasi, baterai solid-state, dan baterai surya perovskit. Namun, kita harus bekerja lebih keras untuk membawa inovasi ini dari laboratorium ke pasar. Maka, kami berinvestasi secara besar-besaran dalam litbang—lebih besar dibandingkan seluruh pemain industri lain jika digabungkan.
Meski upaya melawan pemanasan global sering dipandang sebagai isu iklim, pada hakikatnya, hal ini merupakan isu energi, dan pada akhirnya isu pembangunan. Kami percaya, kerja sama internasional menjadi cara yang paling efisien untuk menanganinya, dan kami siap membagikan teknologi baterai serta pengalaman kepada dunia. Kami telah berkembang, mulai dari mengekspor baterai pada tahap awal menuju pendekatan "produksi lokal untuk pasar lokal". Kami juga melisensikan teknologi kepada mitra agar mereka dapat membangun pabrik baterai sendiri.
Untuk mempercepat transisi menuju era energi berkelanjutan, kita perlu meningkatkan skala teknologi energi canggih secara global dengan cara yang lebih efisien dan terjangkau. Namun, di beberapa pasar, berdasarkan pengalaman kami, regulasi bangunan dan peralatan justru meningkatkan biaya produksi. Saya ingin mengusulkan solusi: membentuk kawasan ekonomi khusus yang menerapkan regulasi bangunan dan peralatan seperti yang dipraktikkan di Tiongkok. Pendekatan tersebut dapat mempercepat peningkatan produktivitas, seperti yang telah terbukti berhasil di Tiongkok.
Hadirin sekalian, sebuah riset terbaru dari Columbia University memproyeksikan kenaikan suhu global sebesar 1,7 derajat Celsius di atas kondisi praindustri pada 2027. Untuk mengatasi pemanasan global, kita perlu segera membangun sistem energi berkelanjutan. Upaya ini menuntut terobosan teknologi, keberanian, dan kebijaksanaan.
Sebagai pelopor transisi energi, CATL siap bekerja sama lebih erat dengan komunitas ilmiah, pemerintah, pelaku usaha, dan siapa pun yang berkomitmen pada misi ini. Mari kita bergandengan tangan dan bergerak menuju masa depan energi nol emisi, dan mewariskan Bumi yang sehat dan hijau bagi generasi mendatang.
SOURCE Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL)
Penulis : Bagus


