Pelaksanaan MBG diharapkan berikan dampak positif ekonomi lokal
Temanggung (ANTARA) - Selain memenuhi kebutuhan gizi, pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap sektor ekonomi lokal di masyarakat Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Dandim 0706/Temanggung Letkol Inf Richie Fadly di Temanggung, Rabu, menyampaikan pemanfaatan potensi lokal menjadi salah satu perhatian utama, terutama dengan mengutamakan bahan pangan yang berasal dari wilayah Temanggung.
Ia menuturkan, langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan penyerapan hasil pertanian dan perkebunan, dan peternakan daerah sekaligus memberikan manfaat langsung kepada para petani.
Ia menuturkan, hasil jerih payah masyarakat Temanggung diharapkan dapat kembali dinikmati oleh anak-anak di daerah tersebut melalui penyediaan makanan bergizi.
"Manfaatkan segala potensi yang ada di Kabupaten Temanggung. Bahan-bahan makanan yang kita harapkan juga berasal dari Kabupaten Temanggung, sehingga mampu menyerap hasil tani, hasil perkebunan, dan jerih payah para petani Temanggung untuk kemudian dinikmati kembali oleh anak-anak kita," katanya.
Dalam pelaksanaan MBG, katanya, keamanan pangan menjadi penekanan utama. Setiap makanan yang diproduksi SPPG tidak boleh didistribusikan sebelum dipastikan benar-benar aman dan layak untuk dikonsumsi.
Ia menyampaikan, pengawasan keamanan pangan harus dilakukan sejak tahap pemilihan bahan makanan, penyimpanan, proses pemasakan, hingga distribusi kepada penerima manfaat. Seluruh tahapan tersebut harus dipastikan memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
Ia menuturkan, para pengelola SPPG juga diminta tidak mengambil jalan pintas maupun menurunkan kualitas makanan demi mengejar efisiensi.
“Jangan ada makanan yang keluar dari dapur SPPG sebelum kita benar-benar yakin bahwa makanan tersebut aman untuk dikonsumsi. Mulai dari pemilihan makanan, penyimpanan, pemasakan, sampai distribusi harus diyakinkan betul kebersihan dan keamanannya,” tegasnya.
Efisiensi dalam pelaksanaan program tetap diperlukan, katanya, namun tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kualitas dan keamanan pangan. Penurunan kualitas justru berpotensi menimbulkan persoalan yang lebih besar, termasuk terjadinya kejadian luar biasa akibat makanan yang tidak aman.
Editor : Eko Adi


