IHSG berpotensi "sideways" seiring sentimen global dan domestik
Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu berpotensi bergerak sideways (mendatar) seiring adanya kombinasi sentimen dari tingkat global dan domestik.
IHSG dibuka menguat 28,51 poin atau 0,47 persen ke posisi 6.068. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 2,61 poin atau 0,44 persen ke posisi 601,50.
"IHSG berpeluang konsolidasi direntang level 5.950-6.125 pada perdagangan Rabu," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari mancanegara, data inflasi Amerika Serikat (AS) tercatat sebesar 3,5 persen year on year (yoy) pada Juni 2026, dari sebelumnya 4,2 persen (yoy) pada Mei 2026.
Sedangkan, inflasi inti tercatat sebesar 2,6 persen (yoy) pada Juni 2026, dari sebelumnya 2,9 persen (yoy) pada Mei 2026.
Sementara itu, laju inflasi Producer Price Index (PPI) AS diperkirakan akan melambat menjadi 6,2 persen (yoy) pada Juni 2026, dari sebelumnya 6,5 persen (yoy) pada Mei 2026.
"Data inflasi yang melambat menurunkan ekspektasi akan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini. Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan kesaksian di hadapan Kongres mengatakan bahwa peningkatan inflasi dalam lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu," ujar Ratna.
Dari kawasan Asia, ekspor China meningkat 27 persen (yoy) pada Juni 2026, dari sebelumnya 19,4 persen (yoy) pada Mei 2026. Demikian juga dengan impor yang tumbuh 36 persen (yoy) pada Juni 2026 dari sebelumnya 27,4 persen (yoy) pada Mei 2026.
Dengan demikian, surplus neraca perdagangan China bertambah menjadi 125,62 miliar dolar AS pada Juni 2026, dari sebelumnya 105,43 miliar dolar AS pada Mei 2026.
Di sisi lain, investor akan menantikan pertumbuhan PDB China yang diperkirakan melambat menjadi 4,5 persen (yoy) pada kuartal II 2026 dari 5 persen (yoy) pada kuartal I-2026.
Dari dalam negeri, BEI menambahkan kriteria Price-Impact Ratio dalam metodologi penyaringan saham, yang berpotensi memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
BEI akan melakukan penyaringan terhadap saham-saham yang mengalami perubahan harga signifikan, tetapi tidak didukung oleh aktivitas transaksi yang memadai.
Price-Impact Ratio adalah perbandingan antara perubahan harga saham dengan tingkat velocity perdagangan.
Velocity adalah rata-rata volume transaksi dibandingkan jumlah saham yang beredar di publik.
Saham yang volume transaksinya rendah namun mengalami kenaikan harga yang besar akan menghasilkan Price-Impact Ratio tinggi dan menjadi objek pengawasan untuk berpotensi termasuk dalam HSC.
Seiring adanya kriteria baru tersebut, BEI menambahkan 37 saham ke dalam daftar saham HSC sehingga total menjadi 51 saham.
Pada perdagangan Selasa (14/7/2026) kemarin, bursa Eropa kompak menguat, di antaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,12 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,30 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,13 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menguat 0,03 persen.
Bursa Wall Street di AS juga kompak menguat pada Selasa (14/7/2026), di antaranya Indeks S&P 500 menguat 0,38 persen ke 7.543,59, indeks Nasdaq Composite menguat 1,10 persen ke 29.586,29, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,02 persen ke 52.508,27.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 1,04 persen ke 68.450,00, indeks Shanghai melemah 0,19 persen ke 3.959,95, indeks Hang Seng menguat 1,34 persen ke 24.666,00, dan indeks Strait Times menguat 0,87 persen ke 5.543,29.
Editor : Eko


