Rupiah melemah dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga Fed


Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin, bergerak melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.614 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.611 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.600 - Rp17.680 dipengaruhi oleh global melemahnya mayoritas mata uang kawasan akibat kenaikan harga minyak seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed Kamis (17/9) minggu ini,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Dia menyampaikan bahwa suku bunga The Fed diperkirakan naik 25 basis points (bps) menjadi 4 persen.

Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut berpotensi membuat Bank Indonesia (BI) akan mengambil langkah hawkish pada pekan depan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), ditambah lagi tren kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun telah mendekat 5 persen di level 4,96 persen dan indeks dolar sudah menyentuh angka 99.

Di samping itu, lanjutnya ruang fiskal pemerintah semakin menyempit untuk mentransmisi selisih harga minyak dengan asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) di 70 dolar AS per barel.

Mengutip Xinhua, harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan Oktober menembus angka 100 dolar AS per barel per Kamis (10/9).

Harga WTI untuk pengiriman Oktober sempat menyentuh level 100,88 dolar AS per barel, naik 4,83 dolar AS atau 5,03 persen dari Rabu (9/9). Angka ini menandai level tertinggi untuk kontrak berjangka minyak mentah WTI sejak 20 Mei.

 

 


Editor : Eko Adi