IHSG berpotensi variatif seiring tensi geopolitik dan ekspektasi Fed
Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu berpotensi bergerak variatif seiring adanya tekanan tensi geopolitik dan ekspektasi terhadap suku bunga acuan The Fed.
IHSG dibuka menguat 14,40 poin atau 0,22 persen ke posisi 6.700,84. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,90 poin atau 0,14 persen ke posisi 666,48.
“IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju gap 6.723, dengan target berikutnya di 6.787-6.858 jika berhasil break. Sebaliknya, koreksi berpotensi menguji support 6.636, 6.58 dan 6.566,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari mancanegara, ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran kembali meningkat setelah aksi militer berlanjut di Timur Tengah dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global.
AS menyerang kapal tanker minyak Iran sebagai respons atas serangan rudal terhadap kapal perang AS, sementara Iran kemudian menargetkan sejumlah kapal di Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Gangguan tersebut menekan arus ekspor minyak kawasan, dengan ekspor minyak Timur Tengah pada Agustus 2026 dilaporkan turun 39 persen dibandingkan baseline Januari-Februari sebelum konflik. Serangan terhadap fasilitas kilang Jazan milik Saudi Aramco juga meningkatkan risiko gangguan pasokan produk olahan global.
Selain itu, sentimen pasar juga cenderung negatif setelah laporan ketenagakerjaan AS periode Agustus 2026 menunjukkan penambahan 162.000 nonfarm payrolls, atau jauh di atas ekspektasi 55.000, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1 persen.
Data itu memperkuat persepsi bahwa ekonomi AS masih cukup kuat di tengah inflasi yang relatif tinggi, sehingga probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada September 2026 meningkat menjadi sekitar 60 persen.
Namun demikian, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga setelah rilis data ketenagakerjaan, sehingga menimbulkan tekanan politik terhadap independensi bank sentral.
Selanjutnya, investor akan mencermati data PPI dan CPI AS periode Agustus 2026, untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai keputusan FOMC pada 16 September 2026.
Dari dalam negeri, minat investasi di sektor energi baru terbarukan (EBT) masih didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), didukung perkembangan teknologi solar panel yang semakin efisien dan matang.
Pemerintah menilai PLTS akan menjadi salah satu tumpuan utama dalam mendorong bauran energi nasional, sementara pengembangan nuklir, energi gelombang laut, dan sumber EBT lainnya masih menghadapi risiko serta kebutuhan transisi teknologi yang lebih tinggi.
Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan skema insentif baru pengganti tax holiday yang berakhir pada 2025, seiring penerapan Global Minimum Tax (GMT) yang dapat mengurangi manfaat pembebasan pajak bagi investor asing.
Adapun, beberapa alternatif yang dikaji meliputi perluasan tax allowance, subsidi penggunaan energi ramah lingkungan, serta subsidi berbasis volume produksi.
Bursa Eropa bergerak variatif pada penutupan Selasa (08/09), diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,14 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,10 persen, indeks DAX Jerman stagnan, dan indeks CAC 40 Prancis menguat 0,14 persen.
Sementara bursa di Wall Street AS kompak melemah pada penutupan Selasa (08/09), diantaranya indeks S&P 500 melemah 0,58 persen ke level 7.673,52, indeks Nasdaq Composite melemah 0,32 persen ke 26.421,41, serta Dow Jones Industrial Average melemah 1,18 persen ke 52.786,07.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 0,17 persen ke 65.382,00, indeks Shanghai menguat 0,22 persen ke 3.949,25, indeks Kospi menguat 1,59 persen ke 7.064,46, indeks Hang Seng melemah 0,14 persen ke 25.283,00, dan indeks Straits Times melemah 0,99 persen ke 5.710,24.
Editor : Eko Adi


