Ekonom: ICOMEX perlu waktu untuk jadi bursa yang kredibel
Jakarta, 17/9 (ANTARA) - Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan bahwa Bursa Mineral dan Komoditas Strategis atau ICOMEX perlu waktu untuk menjadi bursa yang kredibel dan menjadi referensi global, serta relatif independen dari intervensi pemerintah.
"ICOMEX perlu waktu untuk menjadi bursa yang kredibel," kata Wijayanto saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, pendirian ICOMEX sebenarnya terkesan terburu-buru, karena idealnya memanfaatkan bursa komoditas yang saat ini sudah ada (ICDX), sehingga tidak perlu membangun sistem dan organisasi baru.
Namun kata dia, ketika ICOMEX ingin dijadikan bursa yang kredibel dan menjadi referensi global, ada sejumlah persyaratan yang harus dicapai.
Seperti ICOMEX relatif independen dari intervensi pemerintah sehingga pelaku pasar merasa nyaman, kemudian regulasi dan governance pasar yang kuat, selain itu data harus real time dan transparan.
"Tidak hanya itu terkoneksi dengan pasar global, likuiditas tinggi dimana banyak “penjual", “produk” dan “pembeli”, dan juga sistem settlement dan delivery fisik yang handal," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketika persyaratan tersebut terpenuhi, Bursa Mineral, dan Komoditas Strategis juga masih perlu waktu sekitar 4-5 tahun.
Akan tetapi, kata dia, apabila ingin dipercepat maka semua eksportir diwajibkan menggunakan ICOMEX untuk seluruh kontrak ekspornya.
"Hal ini untuk meminimalisir risiko, dan sebaiknya dimulai dari 2-3 komoditas terlebih dahulu, baru diperluas jika pasar sudah beroperasi dengan stabil," katanya menambahkan.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa timah menjadi produk pertama yang akan diperdagangkan dalam bursa mineral dan komoditas strategis (BMKS) atau ICOMEX, karena dinilai lebih siap.
Adapun perdagangan bursa mineral dan komoditas strategis melalui entitas ICOMEX ditargetkan pertama kali beroperasi pada 4 Januari 2027.
Kepala Eksekutif Pengawas BMKS OJK Sarjito dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Selasa, menjelaskan timah dipilih sebagai komoditas pertama karena telah lama diperdagangkan di Jakarta Futures Exchange (JFX), meskipun partisipasinya masih terbatas.
Dengan keterlibatan pemerintah melalui MIND ID serta dorongan pemerintah untuk meningkatkan perdagangan timah melalui bursa, ia mengatakan bahwa perdagangan komoditas tersebut diharapkan akan menjadi lebih transparan.
“Tentu ini adalah sesuatu yang sangat bagus, sehingga mendorong transparansi untuk perdagangan, baik transparansi di bursa pada awal-awal maupun B2B yang nanti reporting system-nya,” kata Sarjito.
Penulis : Eko Adi


