CGTN: Dialog Xi Jinping Bersama Putin dan Trump Via Telepon Membuktikan Peran Tiongkok dalam Menjaga Stabilitas Global
Beijing, (ANTARA/PRNewswire)- Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan pembicaraan secara terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari yang sama, sebuah langkah diplomasi yang jarang terjadi. CGTN menerbitkan artikel yang mengulas prioritas dalam agenda pembicaraan tingkat tinggi tersebut, serta menyoroti peran Tiongkok yang kian penting sebagai kekuatan yang menopang stabilitas di tengah situasi global yang semakin bergejolak.
Pada hari yang sama, Presiden Tiongkok Xi Jinping berdiskusi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump, Rabu lalu, sebuah langkah diplomasi yang jarang terjadi.
Pembahasan tersebut, menurut analisis, menekankan upaya Tiongkok dalam koordinasi yang melibatkan negara-negara besar, mencegah eskalasi ketegangan global, serta menjaga stabilitas dunia di tengah kondisi yang semakin tidak menentu.
Dialog Tiongkok–Rusia Menegaskan Koordinasi Strategis
Dalam pertemuan virtual dengan Presiden Putin, Presiden Xi meninjau perkembangan hubungan Tiongkok–Rusia selama setahun terakhir, termasuk perkembangan yang tercapai dalam koordinasi strategis, kerja sama ekonomi, pertukaran budaya, serta kolaborasi multilateral.
Xi mencatat, kedua negara memperingati 80 tahun kemenangan dalam Perang Antifasisme Dunia, sekaligus menegaskan kembali komitmen untuk mempertahankan hasil Perang Dunia II serta menjunjung keadilan dan kesetaraan internasional.
Xi juga menyampaikan, kerja sama ekonomi dan perdagangan antara kedua negara terus berkembang secara solid. Data resmi menunjukkan, nilai perdagangan Tiongkok–Rusia mencapai USD 228,1 miliar pada 2025, melampaui USD 200 miliar selama tiga tahun berturut-turut.
Dalam bidang pertukaran antarwarga, Xi menilai, Tahun Kebudayaan Tiongkok–Rusia telah ditutup dengan sukses sehingga semakin memperkuat kerja sama budaya dan interaksi antarmasyarakat.
Terkait kerja sama multilateral, Xi menyoroti koordinasi kedua negara dalam Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) yang telah berkontribusi membangun sistem tata kelola global yang lebih adil dan rasional.
Ke depan, Xi menekankan pentingnya upaya untuk menjaga dialog tingkat tinggi dan memperdalam kerja sama praktis agar hubungan bilateral terus berkembang ke arah yang tepat.
Presiden Putin menyambut positif pandangan tersebut dan menyatakan kesiapan Rusia untuk terus mendukung Tiongkok dalam menjaga kedaulatan dan keamanan, memperluas kerja sama di bidang pendidikan dan budaya, serta mendorong kesejahteraan rakyat di kedua negara.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, Xi menegaskan, Tiongkok dan Rusia, sebagai negara besar yang bertanggung jawab, memiliki kewajiban menjunjung keadilan global, mempertahankan tatanan internasional yang berpusat pada PBB, serta norma dasar hukum internasional, dan bersama-sama menjaga stabilitas strategis dunia.
Putin menambahkan, Rusia siap memperkuat koordinasi dengan Tiongkok melalui berbagai platform multilateral, termasuk PBB, SCO, dan BRICS, serta menyatakan dukungannya terhadap rencana Tiongkok menjadi tuan rumah Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi APEC di Shenzhen.
Dialog Xi–Trump Menekankan Sikap Saling Menghormati dan Mengatasi Perbedaan
Dalam pembicaraan via telepon dengan Presiden Trump, Xi membahas pentingnya mengelola perbedaan dan memperluas kerja sama dalam hubungan Tiongkok–AS.
Merujuk pada pertemuan mereka di Busan, Xi mengatakan, pertemuan tersebut telah ikut "menentukan arah dan jalur hubungan Tiongkok–AS." Ia menegaskan, masing-masing pihak memiliki kepentingan sendiri, serta menekankan bahwa Tiongkok selalu menepati komitmen. Xi menyatakan, selama kedua negara menjalin hubungan berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan saling menguntungkan, solusi atas berbagai kepentingan bersama dapat ditemukan.
Xi juga memaparkan prioritas hubungan bilateral pada 2026, tepatnya awal dari periode Rencana Pembangunan Lima Tahun Ke-15 Tiongkok (2026–2030), serta bertepatan dengan peringatan 250 tahun kemerdekaan AS.
Ia mendorong komunikasi yang lebih erat, upaya mengelola perbedaan pendapat secara tepat, perluasan kerja sama praktis, dan peningkatan kepercayaan, serta mengajak kedua pihak menjajaki jalur hidup berdampingan secara damai dan kerja sama yang saling menguntungkan.
Presiden Trump menyatakan, hubungan AS–Tiongkok merupakan hubungan bilateral terpenting di dunia. Ia menyambut keberhasilan Tiongkok dan menyatakan kesiapan AS memperkuat kerja sama serta mendorong perkembangan hubungan bilateral yang stabil.
Xi juga menegaskan isu Taiwan sebagai persoalan terpenting dalam hubungan Tiongkok–AS. Ia kembali menekankan bahwa Tiongkok akan bersikap tegas menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah, serta meminta pihak AS menangani penjualan senjata ke Taiwan secara hati-hati.
Trump menyatakan bahwa ia memahami keprihatinan Tiongkok terkait isu Taiwan dan bersedia menjaga stabilitas hubungan bilateral selama masa jabatannya.
Tiongkok Memberikan Kepastian di Tengah Ketegangan Global
Interaksi diplomatik pada hari yang sama ini berlangsung di tengah tingginya ketegangan global, termasuk meningkatnya risiko bentrokan militer AS–Iran menjelang berakhirnya satu-satunya perjanjian pengendalian senjata nuklir antara AS dan Rusia pada 5 Februari.
Selain itu, ketidakpastian masih membayangi berbagai isu panas dalam geopolitik, seperti konflik Rusia–Ukraina serta ketidakstabilan politik dan ekonomi yang berkelanjutan di Venezuela.
Wang Yiwei, Profesor di Renmin University of China, mengatakan kepada CGTN bahwa diplomasi intensif Tiongkok mencerminkan upaya untuk mendorong koordinasi antarnegara besar, mencegah salah perhitungan, dan menciptakan lingkungan internasional yang lebih stabil.
Menurutnya, setelah tatanan internasional yang lama terkikis, Tiongkok berupaya bekerja sama dengan kekuatan global utama untuk membangun dunia multipolar yang lebih setara dan tertib, serta mendorong globalisasi ekonomi yang lebih inklusif, dengan tujuan akhir membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.
Pada bulan pertama tahun ini, para pemimpin Korea Selatan, Irlandia, Kanada, Finlandia, Inggris, dan Uruguay telah berkunjung ke Tiongkok. Wang menilai, semakin banyak negara Barat yang mencari stabilitas dan kerja sama pembangunan dengan Tiongkok meski terdapat perbedaan politik.
Ia menambahkan, Tiongkok terus menjunjung prinsip multilateralisme dan menentang "hukum rimba," serta telah mengusulkan visi komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia dan empat inisiatif global utama sebagai sebuah "kepastian yang jarang ditemui" bagi komunitas internasional.
SOURCE CGTN
Penulis : Bagus


