Analis: Pasar "repricing" dengan investor sesuaikan risiko domestik
Jakarta (ANTARA) - Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan bahwa tekanan yang terjadi terhadap pasar keuangan Indonesia menunjukkan adanya proses repricing, yang mana investor global melakukan penyesuaian ulang terhadap risiko di pasar Indonesia.
Ketika kurs rupiah melemah, IHSG terus terkoreksi dan arus dana asing keluar (capital outflow), menurutnya,pasar pada dasarnya sedang menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.
“Dalam kondisi seperti ini, investor tidak hanya melihat potensi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai seberapa besar risiko yang harus mereka tanggung,” ujar Hendra saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.
Risiko yang paling menjadi perhatian pasar saat ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi yang melambat, Ia menjelaskan melainkan meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas kurs rupiah, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.
“Ketika tingkat ketidakpastian meningkat, investor cenderung meminta kompensasi berupa valuasi yang lebih murah sebelum kembali masuk ke pasar,” ujar Hendra.
Apabila beberapa tahun lalu faktor global sering menjadi penjelasan utama pergerakan pasar Indonesia, menurutnya, saat ini pengaruh faktor domestik justru semakin besar.
Di sisi lain, Ia tidak memungkiri bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi, penguatan dolar AS, serta ketegangan geopolitik global tetap memberikan tekanan terhadap seluruh negara berkembang.
“Namun, yang membedakan kinerja masing-masing negara adalah bagaimana kondisi domestiknya,” jelas Hendra.
Ia menjelaskan investor saat ini mulai melakukan perbandingan antarnegara emerging market, dan memilih negara yang dinilai memiliki kepastian kebijakan lebih baik, risiko fiskal lebih rendah, serta arah pembangunan yang lebih mudah diprediksi.
“Karena itu, ketika tekanan global terjadi bersamaan dengan munculnya berbagai pertanyaan mengenai kebijakan domestik, dampaknya terhadap Indonesia menjadi lebih besar dibandingkan negara lain yang memiliki kondisi fundamental serupa tetapi persepsi risikonya lebih rendah,” ujar Hendra.
Dari berbagai isu yang berkembang belakangan, mulai dari outlook rating, kebijakan fiskal, Danantara, hingga perubahan sejumlah regulasi, menurut Hendra, faktor yang paling mempengaruhi persepsi investor sebenarnya adalah tingkat kepastian dan konsistensi kebijakan.
“Investor pada dasarnya dapat menerima berbagai kebijakan baru selama arah, tujuan dan tata kelolanya jelas,” ujar Hendra.
Hendra menjelaskan pasar cenderung memberikan respons negatif ketika muncul ketidakjelasan mengenai implikasi fiskal jangka panjang, mekanisme pengelolaan aset negara, potensi konflik kepentingan, maupun perubahan regulasi yang dianggap terlalu cepat atau kurangnya komunikasi yang baik.
“Dalam dunia investasi, ketidakpastian sering kali lebih ditakuti dibandingkan berita buruk itu sendiri. Investor dapat menghitung risiko apabila datanya jelas, tetapi akan cenderung mengurangi eksposur apabila sulit memperkirakan arah kebijakan ke depan,” ujar Hendra.
Data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (08/06) pukul 10.30 WIB, IHSG tercatat melemah 220,47 poin atau 3,94 persen ke posisi 5.374,18, yang menjadi pelemahan IHSG selama empat hari berturut-turut pada hari perdagangan terakhir.
Sebelumnya, pada Rabu (03/06), IHSG ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07. Kemudian, koreksi berlanjut dengan pelemahan 3,48 persen ke posisi 5.734,25 pada perdagangan sesi I di Kamis (04/06), namun sedikit membaik dan ditutup melemah 1,70 persen ke posisi 5.839,78 pada akhir perdagangan.
Kemudian, koreksi IHSG berlanjut pada Jumat (05/06), yang melemah hingga 147,62 poin atau 2,53 persen ke posisi 5.692,15 pada perdagangan sesi I, dan berlanjut ditutup melemah 245,01 poin atau 4,20 persen ke posisi 5.594,77 pada akhir perdagangan.
Editor : Eko


